Keistimewaan dan Puasa di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriah yang memiliki banyak keutamaan dan menjadi salah satu bulan haram (mulia) dalam Islam. Selain itu, bulan ini juga menjadi penanda awal tahun baru Islam.Berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam terjadi di bulan Muharram, menjadikannya istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Keistimewaan Bulan Muharram

Muharram memiliki beberapa keistimewaan yang menjadikannya bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan:

  • Bulan Haram: Muharram termasuk dalam empat bulan haram bersama dengan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di bulan-bulan ini, umat Muslim sangat dianjurkan untuk tidak melakukan perbuatan dosa dan memperbanyak amal shalih, karena pahala amal baik akan dilipatgandakan dan dosa pun akan diperberat.
  • Awal Tahun Baru Islam: Pergantian tahun dalam kalender Hijriah dimulai dengan bulan Muharram. Ini adalah momen yang baik untuk introspeksi diri, merencanakan kebaikan di masa depan, dan memperbanyak doa.
  • Bulan Allah (Syahrullah): Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai “Syahrullah” (Bulan Allah), menunjukkan betapa mulianya bulan ini di sisi Allah SWT. Ini mendorong umat Muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
  • Bulan Terbaik untuk Berpuasa setelah Ramadhan: Setelah bulan Ramadhan, puasa sunah yang paling utama adalah puasa di bulan Muharram, khususnya puasa Tasu’a dan Asyura.

Puasa Bulan Muharram

Berpuasa di bulan Muharram sangat dianjurkan karena keutamaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram.” (HR. Muslim)

Anjuran puasa ini tidak hanya terbatas pada satu atau dua hari saja, tetapi mencakup keseluruhan bulan Muharram, meskipun ada hari-hari tertentu yang lebih ditekankan.

Puasa Tasu’a (9 Muharram)

Puasa Tasu’a adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram. Anjuran puasa ini muncul dari keinginan Rasulullah SAW untuk menyelisihi kebiasaan Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Jika aku (masih hidup) sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).” (HR. Muslim)

Meskipun Rasulullah SAW wafat sebelum mencapai tahun berikutnya, umat Muslim tetap dianjurkan untuk menjalankan puasa Tasu’a sebagai bentuk mengikuti niat dan sunah beliau.

Puasa Asyura (10 Muharram)

Puasa Asyura adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki keutamaan yang sangat besar, yaitu dapat menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.

Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Puasa Asyura juga merupakan hari di mana Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Fir’aun. Oleh karena itu, puasa ini menjadi bentuk syukur kepada Allah atas pertolongan-Nya.

Menggabungkan puasa Tasu’a dan Asyura (9 dan 10 Muharram) adalah yang paling utama, karena ini adalah cara untuk menyelisihi kaum Yahudi dan mengikuti sunah Rasulullah SAW secara sempurna. Jika tidak mampu berpuasa pada kedua hari tersebut, minimal berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) sangat dianjurkan.

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dan keutamaan dari bulan Muharram ini dengan memperbanyak amal ibadah, khususnya puasa sunah.