Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah : 183)

Bergembira dengan Datangnya Ramadhan

Bergembira menyambut Ramadhan adalah wujud iman dan syukur, karena bulan suci ini membawa rahmat, ampunan, dan pintu surga yang dibuka.

Allah berfirman,

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Kegembiraan ini, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. 

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Umat Islam dianjurkan menyambutnya dengan persiapan mental, fisik, dan spiritual (seperti doa sejak Rajab) agar maksimal beribadah. Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.” (Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)

Ramadhan bulan peningkatan Taqwa

Sebagaimana Allah telah berfirman dalam Surat AL Baqarah 183, tujuan puasa adalah agar kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Menurut para ulama yang dimaksud dengan takwa itu adalah kepatuhan menjalankan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-laranganNya. Orang yang berpuasa adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya dari berbuat yang melanggar peraturan-peraturan Allah SWT.

Takwa dalam Islam dianggap sebagai kemuliaan (al-karam) dan bahkan Allah mengatakan dalam Surat Al Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui, Mahateliti.”

  1. Ketaqwaan Pribadi

Ramadhan mendidik individu untuk mencapai derajat takwa, yang diukur bukan hanya dari ritual semata, melainkan dari konsistensi perilaku yang takut kepada Allah.

Poin Utama Ramadhan dalam Membentuk Pribadi Taqwa:

  1. Pengendalian Diri: Menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu melatih kesabaran dan kepatuhan kepada Allah.
  2. Penyucian Dosa: Kesempatan bertaubat dan menghapus dosa masa lalu melalui iman dan harap (ikhtisaban).
  3. Peningkatan Ibadah: Membiasakan diri dengan shalat tarawih, qiyamul lail, dan tadarus Al-Qur’an.
  4. Perubahan Akhlak: Menumbuhkan rasa syukur, empati kepada sesama, serta kedisiplinan.
  5. Istiqomah: Menjadikan ketaatan sebagai kebiasaan sehari-hari yang mendarah daging setelah Ramadhan.
  1. Ketaqwaan Keluarga

Ramadhan bukan hanya tentang menjalankan ibadah secara individual; ia adalah kesempatan emas untuk membangun kebersamaan keluarga yang kokoh dan bermakna. Berikut beberapa cara untuk mempererat ikatan keluarga selama bulan suci ini:

  1. Berbuka Puasa Bersama: Momen Keakraban dan Syukur
  2. Shalat Tarawih Bersama: Menguatkan Ikatan Spiritual dan Keluarga
  3. Membaca Al-Qur’an Bersama: Mencari Hikmah dan Pemahaman Bersama
  4. Beramal dan Bersedekah Bersama: Mengajarkan Nilai Kepedulian dan Empati
  1. Ketaqwaan Masyarakat

Ramadhan mendidik masyarakat untuk tidak hanya taat secara individu, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, yang bertujuan membentuk pribadi muttaqin yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Dampak Ramadhan terhadap Ketaqwaan Masyarakat:

  1. Peningkatan Spiritual: Umat Muslim meningkatkan kualitas ibadah seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan i’tikaf di masjid untuk meraih ketakwaan.
  2. Penguatan Ketakwaan Sosial (Empati): Puasa menumbuhkan rasa peduli melalui kegiatan berbagi takjil, santunan anak yatim, dan bersedekah.
  3. Pengendalian Hawa Nafsu: Puasa berfungsi sebagai perisai dari maksiat, membantu masyarakat menahan diri dari perilaku negatif, dan meningkatkan kejujuran.
  4. Disiplin dan Solidaritas: Tradisi seperti sahur, buka puasa bersama, dan mudik mempererat tali silaturahmi, menciptakan kerukunan, keamanan, dan kedamaian di tengah masyarakat.

Syekh Nawawi Banten kitab Tafsir Marah Labid mengatakan bahwa ujung dari puasa adalah membentuk diri menjadi orang yang takwa. Keutamaan itu akan tercapai dengan berpuasa dan meninggalkan hawa nafsu. Puasa melatih diri untuk menahan diri dari berbagai godaan, termasuk makan dan minum, serta hawa nafsu lainnya. Hal ini tidak mudah, tetapi jika berhasil, maka akan lebih mudah untuk bertakwa kepada Allah dalam hal lain.

Untuk itu, dengan menjalankan puasa dengan benar, kita tidak hanya meningkatkan keimanan pribadi, tetapi juga berkontribusi positif pada lingkungan sekitar. Puasa menjadi sarana untuk membangun ketakwaan sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *